Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 39

Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 39by on.Cerita Sex The Bastian’s Holiday – Part 39The Bastian’s Holiday – Part 39 STARRING Tania Resti Santoso As, The Maid / The Hunter Habibah / Bibie As, The Friend William Olsen As, The White Guy Christian Andreanus Diaz As, The Black Guy ================ Siang ini aku berdandan sangat cantik. Sapuan bedak putih dengan perona warna peach di pipi, serta taburan gincu merah […]

multixnxx-Black hair, Asian, High heels, Pornstar, S-8 multixnxx-Black hair, Asian, High heels, Pornstar, S-9 multixnxx-Black hair, Asian, High heels, Pornstar, S-10The Bastian’s Holiday – Part 39

STARRING

Tania Resti Santoso
As, The Maid / The Hunter

Habibah / Bibie
As, The Friend

William Olsen
As, The White Guy

Christian Andreanus Diaz
As, The Black Guy

================

Siang ini aku berdandan sangat cantik. Sapuan bedak putih dengan perona warna peach di pipi, serta taburan gincu merah menyala membuat bibirku semaki sensual. Kini aku merasa sangat cantik. Cantik?, ya mereka bilang aku memang cantik dan aku mengakuinya. Usai berdandan aku berjalan menuju jendela kaca, kubuka tirainya hingga cahaya luar masuk menerangi. Aku berdiri membelakangi dan mulai mengarahkan kamera hp ke wajahku.

CEPREET…

Beberapa kali aku abadikan wajah cantikku dari berbagai sudut. Setelah kurasa cukup dan mendampat hasil foto yang aku inginkan, aku segera membuka aplikasi fesbuk di hapeku itu. Setelah terbuka aku langsung mengunggah beberapa foto yang menurutku paling cantik. Tak lupa aku bubuhi beberapa kalimat dibawah foto yang aku unggah tadi.

Life in the Beautiful Place

Saat jempolku menyentuh tombol post, maka semua foto cantiku sudah berada di akun fesbuku, dan ribuan teman febukku sudah bisa melihatnya. Hap, tanpa butuh waktu lama hpku berkedip tanda ada pemberitahuan. Kembali aku masuk pada aplikasi fesbuk dan mendapati puluhan pemberitahuan. Semuanya berasal dari foto yang baru saja aku unggah. Ada yang like, ada yang komen bahkan ada yang menandai. Mayoritas aku tidak tahu siapa mereka tapi aku cukup senang terutama dengan komentar semua temen – temen fesbuku. Ada yang bilang” cantik, Wah Sis orang kaya yah, kenalan dong, Halo sis” dan beragam komentar lain yang semuanya berasal dari akun laki – laki. Ada komentar yang bagus ada juga yang jelek bahkan ada juga yang begitu kasar. Dengan lantangnya ia berkomentar ” DC berapa nih Sis”

What?

Kamu pikir aku pecun? Perek? Bisyar atau artis bokep sosmed yang marak beberapa tahun ini. Hahahaha… Aku hanya dapat tertawa menanggapi itu semua. Tak pernah sedikitpun aku serius menanggapi komen – komen aneh dari para lelaki hidung belang. Tapi ada beberapa komentar yang menurutku paling menarik. Yaitu komen dari salah satu akun dengan foto wanita, nampaknya aku kenal dia, seperti teman lamaku. Ya benar dia teman lamaku. Dia berkomentar

“Wah Tania sekarang sudah orang sukses yah? Sekarang tinggal dimana Ni? Apartemen yah? Wah jadi kangen nih sama kamu”

Aku tersenyum melihat komentar dari salah satu teman lamaku. Bukan lantaran komentarnya, tapi karena ketidak tahuannya. Ya siapapun pasti akan beranggapan sama sih, Bayangkan seorang wanita berfoto selfie dengan dandanan menor, baju mewah dengan latar gedung bertingkat. Pasti yang ada dibenak orang pertama kali adalah, wanita itu tinggal di sebuah apartemen mewah dan dia pasti orang kaya. Ya itulah yang pasti terlihat. Tetapi kalian tidak tahu yang sebenarnya.

Ya aku memang berpakaian mewah, bermakeup mahal dan tinggal disebuah apartemen super mewah pula. Namun itu semua bukan milikku, sama sekali bukan punyaku. Semua kemewahan ini adalah milik tuanku, Tuan?. Ya aku seorang pembantu, pelayan, babu, jongos atau apapun istilahnya. Aku disini hanya seseorang yang membantu pekerjaan seseorang. Bukan apa – apa, tak lebih hanya itu saja.

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Semua bermula ketika aku dan keluarga merasakan apa itu hidup susah. Suamiku meninggal 5 tahun yang lalu karena kecelakaan, dan disusul Bapakku setahun kemudian. Setelah itu kami benar – benar kehilangan segalanya, kehilangan orang yang menghidupi dan kehilangan orang yang terkasih. Saat kehilangan keduanya kami benar – benar merasakan kesulitan ekonomi. Jangankan untuk membeli pakaian baru untuk makan saja terkadang kami meminjam dari tetangga. Hidup kami semakin susah saat kami harus mencicil hutang keluarga ketika mengobati penyakit stroke bapak. Semua kami jual untuk melunasi hutang itu, bahkan kami harus menjual rumah satu – satunya harta berharga milik kami.

Hasil penjualan rumah ditambah beberapa perhiasan bahkan mas kawinkku memang cukup membayar hutang. Tetapi setelahnya kami benar – benar kehilangan segalanya, kami tidak memiliki apapun saat itu. Bahkan kami bingung hendak tinggal dimana. Akhirnya kami menumpang dirumah sanak saudara, saat itu aku merasakan bagaimana menjadi beban bagi orang lain. Sebagai anak tertua aku harus mengembalikan harkat keluargaku. Membahagiakan Ibu, Adik perempuanku dan tentu saja membahagiakan kedua anakku. Aku harus memulai sesuatu untuk menyelamatkan hidup serta masa depan mereka.

Akhirnya aku memutuskan hijrah ke Jakarta, kota penuh peluang. Peluang untuk berhasil dan juga peluang untuk semakin tersisih. Dan aku langsung merasakannya. Sebulan aku di Jakarta aku merasakan betapa sulitnya mencari kerja, hanya bermodal Ijazah SMA yang kumiliki jelas sangat sulit mendapatkannya. Beruntung aku bertemu dengan teman lamaku, teman satu kampung. Dia menyarankan aku untuk bekerja ditempat ia mencari rejeki, dan aku sangat bersyukur walau hanya sebagai tukang cuci disebuah rumah makan. Sejak saat itu keberuntungan mulai berpihak. Selepas bekerja sebagai tukang cuci aku beralih menjadi pelayan direstoran mewah. Memang tidak seberapa tetapi setidaknya mampu menghidupi keluargaku dikampung.

Namun kebutuhan keluargaku semakin meningkat, Adik perempuanku mulai masuk SMA begitu juga dengan anak pertamaku yang menginjak sekolah dasar. Aku bingung saat itu, mencari uang dari mana lagi untuk menutup itu semua. Terlebih Ibu mulai sakit – sakitan dan sering sekali berobat ke dokter yang tentu saja dengan dana yang tidak sedikit.

Putus asa, aku berniat untuk mengakhiri hidup. Namun aku kembali berfikir hal itu tidak menyelesaikan masalah. Ingin aku menjual diri seperti yang dilakukan teman kost dimana aku tinggal. Tetapi itu pilihan yang paling terkahir, aku tidak mau dengan begitu saja menyerahkan tubuhku pada lelaki hidung belang demi sejumlah uang. Tetapi dari mana aku mendapatkan uang. Aku harus bekerja sekuat tenaga, demi keluargaku dan demi masa depan kedua anakku.

Ditengah keputusasaan aku bertemu dengan wanita itu. Wanita yang selalu menjadi pelanggan di restoran tempatku bekerja. Secara kebetulan aku yang selalu melayaninya ketika ia berkunjung disini. Ia tampak seperti wanita biasa – biasa saja, pakaiannya pun tidak mewah berbeda dengan wanita – wanita jet set yang datang ke restoran ini. Tetapi wanita itu berbeda, tidak seperti orang kebanyakan yang selalu menganggap rendah profesi sebagai pelayan. Ia sangat ramah dan selalu memberi senyum ketika aku melayaninya.

Suatu malam usai bekerja aku bertemu dengan wanita itu. Kami berbincang – bincang, banyak yang kami bicarakan malam itu, termasuk kesulitan ekonomi yang aku alami. Lalu iapun menawariku sebuah pekerjaan sebagai seorang pembantu disebuah kondomanium milik pengusaha kaya. Aku tak lantas menerimanya karena aku beranggapan pekerjaan sebagai pembantu tak lebih dari seorang pelayan restoran, bukan pekerjaan yang mendatangkan banyak uang. Terlebih ada yang mengganjal, kami baru saja kenal namun ia sudah menawarkan sebuah pekerjaan.

Beberapa hari kemudian aku menerima telepon dari adikku, ia harus segera membayar uang sekolah kalau tidak ia akan dikeluarkan. Aku bingung, bingung sekali. Aku tak tahu harus melakukan apa lagi. Gaji terakhirku sudah kukirim semuanya kekampung, hanya beberapa lembar saja yang kumiliki untuk bertahan hidup sampai akhir bulan. Aku sama sekali tidak memegang uang lagi. Apa yanh harus kulakukan ya Tuhan? Apa aku harus menjual diriku? Walau usiaku sudah tidak muda aku masih cantik dan tubuhku juga bagus. Tapi bila ini jalan satu satunya, baiklah aku akan menjual diri.

Secara bersamaan, ditengah putus asa yang kembali kudera, wanita itu datang lagi menemuiku. Dan kali ini ia kembali menawariku pekerjaan yang sama. Ia tak datang seorang diri, melainkan bersama seorang pria yang berpenampilan rapi dan tampan. Pria itu sudah tahu siapa diriku, mungkin wanita itu yang menceritakannya. Kali ini pria itulah yang memberi tawaran, tawaran yang sama dari sebelumnya. Menjadi seorang pembantu. Akhirnya tawaran itu aku terima setelah ia bilang akan memberikan berapapun yang aku mau bila aku menerima tawaran itu? Apakah ini sungguhan? Ini bukan mimpi kan?

Untuk meyakinkanku pria itu memberikanku sebuah amplop, yang didalamnya terdapat 50 lembar uang pecahan seratus ribu. Sungguh, hari itu aku sangat terkejut, sebelumnya aku harus bekerja berbulan – bulan ditambah lembur untuk mendapatkan uang sejumlah itu. Namun belum saja aku melakukan apa – apa sejumlah uang itu datang padaku. Akhirnya aku menerima pekerjaan ini, pekerjaan sebagai seorang pelayan disebuah Kondomanium mewah di bilangan Jakarta Pusat.

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Seminggu sudah aku bekerja, dan saat itu aku baru tahu kalau pekerjaan ini sebelumnya milik wanita yang menemuiku malam itu. Pantas saja ia bersikeras membujukku untuk menerima pekerjaan ini, rupanya ia mencari pengganti dirinya karena ia diterima kerja ditempat lain. Ah sudah lah aku tak ambil pusing akan hal itu. Toh pekerjaan ini sudah menjadi milikku. Dan aku pikir ini adalah jalan yang selama ini aku cari, ya mungkin inilah jalan.

Awal menjadi pembantu tidak membuatku kesusahan, karena tidak beda jauh dari pekerjaanku sebelumnya yaitu melayani. Aku hanya melayani tuanku ketika ia pulang bekerja dan melakukan hal yang sama keesokan harinya. Suatu malam tuanku pulang dan memberikanku sebuah amplop berisi uang, aku kaget karena aku belum genap sebulan bekerja. Bahkan aku merasa belum melakukan pekerjan apapun. Tapi aku bersyukur akan pemberian ini, keesokan harinya aku langsung mengirim seluruhnya kekampung. Adikku sangat senang karena ia tidak khawatirlagi dikeluarkan dari sekolah.

Rupanya tuanku adalah orang yang sangat baik dan bijak sana. Senyumnya sangat indah ketika berbicara padaku dan ternyata ia cukup ganteng juga. Sesaat aku jatuh cinta padanya, ya wanita mana yang tidak terpana melihat pria mapan dan tampan sekaligus baik hati.

Tetapi semua itu hanya diawalnya saja. Sampai suatu saat Tuanku bilang akan memberikan uang lebih dari yang selama ini ia berikan asal aku mau melakukan semua permintaannya. Aku berfikir pasti ia menghendaki tubuhku, ia pasti ingin aku memberikannya pelayanan seksual. Hmm, baiklah aku terima itu, toh dulu aku juga sudah berfikir untuk menjual tubuhku. Dan kali ini aku akan benar – benar melakukannya.

Namun dugaanku salah besar, bukan tubuhku yang ia inginkan, bukan pelayanan seks yang ia harapkan dariku. Tetapi lebih dari itu. Ia mengharapkan aku menjadi budak untuknya. Budak yang senantiasa melakukan semua permintaan dari tuanku. Aku berfikir dua kali ketika menerima tawaran itu, namun iming – iming gaji yang lebih besar selalu terbayang hingga akhirnya aku mau menerimanya.

Awalnya aku tidak tahu maksud tujuan Tuan menghendakiku menjadi budaknya. Sampai suatu malam ia pulang dari kantornya, ia memanggilku memintaku berdiri dihadapanya. Ia hanya berdiri saja sambil terus memandang kewajahku. Matanya terus bergerak seolah menelanjangi tubuhku. Lalu ia berjalan memutar dan kembali lagi berdiri didepanku.

“Kamu cantik.!”

Pujinya dengan suara lirih, membuatku terbuai akan hal itu lalu tiba – tiba.

PLAAKK..

Ia menampar keras pipiku hingga tubuhku tersungkur ke lantai. Aku sangat terkejut dan seketika itu pula aku sangat takut. Rupanya ini yang ia kehendaki, ia ingin menyiksa diriku, membuatku benar – benar selayaknya budak. Malam itu pertama kalinya aku diperlakukan seperti itu. Namun malam – malam itu terus berulang hingga saat ini. Bahkan bukan hanya tamparan saja, namun hinaan, cacian, pukulan, tendangan hingga perlakuan seks yang menyimpang dilakukannya kepadaku.

Sejak saat itu aku bagai tidak berharga lagi dihadapannya, diremehkan dan direndahkan. Sampai saat ini, entah sudah berapa banyak air mani yang ia tumpahkan dimulutku, sudah berapa liter air kencing yang ia siramkan di tubuhku, serta liur yang selalu ia ludahkan diwajahku. Kini aku hanya seonggok daging yang menjijikan bahkan mungkin saja anjing tidak akan doyan memakan dagingku.

Tapi aku mulai menyadari satu hal. Atas semua perlakuan aneh yang ia lakukan kepadaku, telah membuat diriku berubah. Kini aku tak bedanya dengan tuanku, kini aku sama saja maniaknya dengan Tuan. Bahkan aku sangat menikmati semua perlakuan kasar itu. Kadang saat Tuan terlambat pulang aku menjadi rindu. Rindu tangan kekarnya yang selalu menamparku, rindu caci makinya, rindu saat ia merendahkanku dan memperlakukan tubuhku layaknya binatang. Aku rindu semua itu.

Aku rela diperlakukan seperti itu, karena satu hal yang telah dilakukan Tuan. Satu hal yang membuatku akan terus menjadi pelayannya selama aku hidup. Beberapa bulan setelah pertama kali Tuan menyiksaku. Ia mengajaku pulang ke kampung. Ia membelikan sebuah rumah untuk Ibu, adik serta anakku, ia menjami kesejahteraan mereka, bahkan ia menjamin pendidikan adikku sampai bangku perguruan tinggi. Itu yang membuat aku sangat diperlakukan semena – mena olehnya.

Biarlah disini aku yang menderita, aku yang merasakan sakit. Asal disana, keluargaku dapat merasa bahagia, tidak lagi menggantungkan diri pada belas kasih orang. Tuanku telah menggangkat harkat dan martabat keluargaku. Walau itu harus merelakan martabatku sendiri sebagai manusia, sebagai seorang perempuan.

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Aku memang rela menderita dan aku dapat menahan itu. Tetapi ada satu penderitaan yang selama ini aku rasakan dan sampai detik ini belum hilang dariku. Semua perlakuan kasar tuan padaku, penetrasinya pada area terlarangku membuatku terangsang. Memang awalnya aku dapat menghalau rangsangan itu, tetapi semakin lama aku tidak bisa membendung nafsu birahiku, nafsuku pada sebuah hubungan seks. Tuan tidak pernah memberikanku itu, ia hanya melakukan penetrasi pada lubang anusku bukan lubang vaginaku.

Kini kewanitaanku sangat kering, lima tahun sudah semenjak suamiku pergi, aku tidak pernah sekalipun melakukan hubungan seks. Hubungan seks apa, penetrasipun tidak. Aku hanya dibiarkannya terangsang, tanpa pernah sedikitpun ia berikan jalan keluar. Ia terus membuatku menderita akan rangsangan itu, karena itulah yang ia inginkan. Ia tahu penderitaan terbesar wanita adalah penderitaan tidak mendapat kenikmatan seks. Semakin besar penderitaanku, maka semakin besar pula kepuasan yang ia dapatkan.

Walau kini aku mengenal aktifitas masurbasi, namun itu hanyalah kenikmatan semu.
Walau terkadang kewanitaanku mendapat penetrasi, namun itu hanya sebuah penis palsu.

Aku menginginkan kenikmatan yang sesungguhnya,
kenikmatan yang bisa mengangkat kembali harkatku sebagai wanita.
Namun dimanakah aku menemukan itu, aku tak tahu.
Aku hanya bisa mengemis tanpa pernah mendapat belas kasih.

“Eh neng Tania, mau kemana?” Tanya Bimo yang merupakan kepala keamanan apartmen

“Mau ke taman pak Bimo, cari udara segar ” jawab Tania sambil menerima uluran tangan Bimo.

“Aduh buru – buru amat neng kelihatannya, disini saja dulu” Ujar Bimo terus menggenggam tangan Tania dengan wajah centilnya.

“Hmm, saya teh lagi ditunggu temen pak ditaman, lain kali saja saya mampir” ujar Tania berusaha melepas genggaman pak Bimo.

“Oh ya sudah”

“Mari pak Bimo” Sahut Tania berlalu meninggalkan Pak Bimo.

Bimo hanya dapat memandang Tania yang belalu meninggalkanya. Tak seinchipun ia berpaling memandangnya. Bimo memang selalu memperhatikan Tania semenjak ia bekerja sebagai pembantu di kediaman Imam Santoso. Setiap ada kesempatan Bimo selalu berusaha mendekati Tania, namun Tania selalu bisa mencari alasan untuk menjauh darinya.

Selain sebagai kepala keamanaan di apartemen ini, Bimo adalah kaki tangan Imam Santoso. Dialah yang merahasiakan segala aktifitas yang dilakukan Imam Santoso didalam apartemennya. Bimo bukanlah seorang lelaki yang buruk rupa hingga Tania selalu menghindarinya. Hanya saja Bimo bukanlah tipe pria yang diidamkan oleh Tania.

Setelah sempat terhalang oleh Bimo, Tania segera menuju taman. Entah apa yang hendak ia lakukan disana. Yang jelas ia hanya ingin menikmati hari ini, hari kebebasannya atau begitulah Tania selalu menyebutnya.

Setiap ada waktu bersantai di taman, Tania selalu membawa sebuah buku catatan. Buku yang selalu ia gores dengan kisah hidupnya yang begitu pahit. Kisah yang tidak pantas ia ceritakan. Bahkan ia tidak pernah sekalipun membaca kembali kisah yang pernah ia tuliskan. Baginya terlalu sakit untuk mengingat lagi apa yang dia alami selama ini. Namun dengan menuliskan semua kisah, rasa sakit itu seolah terlupakan.

Diam seorang diri dibawah pohon rindang. Menghiraukan puluhan orang yang tengah berlalu – lalang. Semilir angin terkadang menghembus, menyibakkan mantel yang menutupi seragam kerjanya. Tanganya terus saja meliuk menggoreskan tinta dikertas putih. Sampai panggilan dari seorang kawan tidak ia hiraukan sedari tadi.

“Nia.. Taniaa”

“Heey!” Seru Bibie menepuk pundak Tania.

“Ehh KONTOL eh KOntol…” Tania tersentak terkejut akan kehadiran Bibie.

“Ihh kamu bikin kaget aja sihhh…” Keluh Tania sembari menepuk pantat Bibie.

“Awwwch..”

“Ih kamu yah latahnya kontol melulu” ledek Bibie berlanjut duduk disebalah Tania.

“Biarin sihh, dah dari dulu kali.” Tegas Tania.

“Kamu aku tadi ketok – ketok pintu gak ada yang nyaut, taunya disini. Lagi ngapain sih” Tanya Bibie sembari berusaha melihat buku catatan Tania.

“Gak lagi ngapa – ngapain kok” Jawab Tania menyembunyikan tulisannya dari pandangan Bibie.

“Ihh nulis apaan sih sampe gak boleh dilihat.” Tanya Bibie lagi terus berusaha meraih buku itu.

“Huuuh, kepo deh kamu!.” Seru Tania sambil memanyunkan bibirnya kearah Bibie.

“Huuuh pelit kamu, kayak sama siapa aja..” Keluh Bibie menonyol kepala Tania.

“Biarin. Eh ada apaan nyariin aku? Mau neraktir makan yah?.” Tanya Tania dengan muka sumringahnya.

“Neraktir.. Orang bulan ini belum gajian. ”

“Enggak cuma pengen ngajak ngobrol aja sih, biasa ngegosip. Hehehe…”

“Huh, dasar pembantu tukang gosip” ledek Tania.

“Dari pada kamu pembantu….”

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Habibah atau kerap dipanggil dengan Bibie adalah seorang asisten rumah tangga dari sepasang suami istri. Bibie dan Tania begitu dekat, karena unit majikan mereka berdua berada pada lantai yang sama. Sejak Bibie hadir dilingkungan apartemen ini, Tanialah orang yang pertama menjadi sahabatnya. Mereka kerap bertemu, bergosip, bahkan sering sekali Tania singgah ke apartemen ketika majikan Bibie tengah bekerja. Namun sebaliknya, Bibie tak pernah sekalipun masuk kedalam unit milik majikan Tania. Karena tak seorangpun diperkenankan masuk tanpa sepengetahuan dan seizin Imam Santoso.

Hampir dua jam Tania dan Bibie bergosip menggunjingkan banyak hal. Mulai dari pembantu baru yang kecentilan, kepala keamanan yang juga super kecentilan hingga botaknya pak Mahmud menjadi objek gosip mereka. Namun satu orang yang menjadi objek baru pergosipan mereka yaitu si tampan Willy.

Willy belum genap dua bulan tinggal di apartemen ini. Namun namanya selalu menjadi perbincangan hangat seluruh pengghuni terutama dari kalangan asisten rumah tangga. Ia lelaki muda masih mahasiswa namun sudah mewarisi bisnis orangtuanya. Wajah tampan khas artis hollywood selalu membuat wanita mematung ketika menatapnya. Sungguh lelaki yang sempurna terutama suara beratnya yang selalu membuat wanita terlena.

“Masa bie kamu pernah ngobrol sama dia?” Tanya Tania tak percaya.

“Ya aku ketemu dia di tempat fitnes, eh dianya malah ngajak kenalan Tan” Jawab Bibie

“Malahan nih ya, beberapa hari kemudian aku diajak main ke apartementnya.” Lanjut Bibie membanggakan diri.

“Ihh kamu ihhh, bikin ngiri aja dehh. Terus waktu itu kamu ngapain aja..?” Tanya Tania makin penasaran.

“Hmmm… Ngapain yah…” Bibie mencoba menggoda Tania.

“Ngapain – ngapain? Ceritain doonk..!” Rengek Tania semakin dibuat penasaran.

“Hmmmm… ”

“Gak ngapa – ngapain sih, wong dia minta diajarin masak kok. Pasti kamu mikirnya yang enggak – enggak?” Sahut Bibie.

“Hehe.. Yah kan siapa tahu aja” Ujar Tania tersipu malu.

“Huuh dasar pembantu centil, pikirannya ngeres mulu.” Ledek Bibie puas

“Kayak kamu enggak aja..”

“Hehehe.. Udah ah balik yuk panas nih!”

“Ya udah yuk.”

Dengan begitu mereka berdua pun kembali. Namun masih ada sejuta tanya akan sosok si tampan Willy diotak Tania. Ia berusaha melupakanya karena ia sadar dirinya bukan apa – apa bagi seorang Willy.

Didalam lift Habibah memiliki sebuah ide yang sedikit gila.

“Heh bengong aja kamu, masih penasaran yah sama mas Willy?”

“Ahh enggak sok tahu kamu” sanggah Tania dengan merah dipipinya.

“Ahh tapi itu pipinya merah tuhh..”

“Ahh kamu Bie enggak lah, lagian gak mungkin juga kan aku suka sama mas Willy, aku kan tahu siapa aku.” Jelas Tania sedikit ngawur.

“Emang aku nanya sejauh itu ya?”

“Apa mau aku kenalin nih..” Lanjut Bibie.

“Boleh” Seru Tania cukup semangat.

“Tuh kan…ya udah yuk kita ke apartemennya aja kalau gitu” ajak Bibie

“Haah! Gak usah ahh malu tau”

“Yaelah Tan, ngapain malu sih, orangnya asyik kok”

“Yah kan aku gak kenal lagian aku masih pake seragam” Ujar Tania membuka mantelnya memperlihatkan seragam kerjanya.

“Yah sama aja dong, aku juga masih pake seragam kerja kan. Dah kita mampir doang sebentar”

Tanpa berfikir panjang keduanya langsung menuju lantai 10, tempat si Tampan berada. Entah apa yang ada dipikiran keduanya yang ingin menemui Willy Olsen. Mereka tidak tahu lelaki seperti apa Willy itu.

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Sesampainya dilantai 10 keduanya langsung bergegas menuju apartemen milik Willy Olsen. Ketika sampai dikoridor menuju apartemen Willy ada seorang wanita yang baru saja keluar dari dalam dengan meninggalkan makian yang memekikan telinga.

“Anjing lo, awas lo ye ngontek gue lagi gak sudi gue.”

“CUIH”

Wanita dengan paras cantik dan dandanan menor itu melontarkan seluruh makianya. Entah apa yang baru saja terjadi. Terlihat amarah yang begitu besar diraut wajah wanita itu sehingga menghilangkan sedikit kecantikan yang dimiliki. Pemerah dibibir wanita itu terlihat memudar dan sedikit menodai dagunya. Ia terus berjalan dengan terburu melewati Tania dan Habibah yang hendak menuju pintu itu.

“Apa lo lihat – lihat!” Seru wanita itu pada Tania dan Habibah.

Entah apa salah keduanya hingga ikut menjadi sasaran wanita dengan pakaian mini super ketat itu. Wanita itupun berlalu meninggalkan pemandangan yang memuakan bagi kedua sahabat ini. Mereka berdua tidak mempedulikan siapa wanita itu dan terus berlanjut untuk menemui Willy Olsen.

“Siapa sih tuh cewek, jutek amat udah dandanannya menor” gerutu Habibah.

“Tahu tuh, pacarnya mas Willy mungkin” celetuk Tania.

“Gak tahu juga sih, setahuku mas Willy gak punya pacar. Tapi gak tahu juga, dah ah bodo amat yuuk.”

“Yuk..”

Merekapun sampai didepan pintu berwarna hitam. Namun satupun dari keduanya yang berani untuk mengetuk. Tampak rasa gerogi diraut wajah keduanya, bahkan Habibah yang memiliki ide ini tak kalah gerogi dari Tania yang sedari tadi berkeringat.

“Tan.. Pencet belnya dong” pinta Habibah.

“Kok aku sih kamu dong! Kan kamu yang ngajakin gimana sih?.”

“Iyaa tapi…”

“Katanya pernah kesini kok sekarang gerogi sih?”

“Yah sih tapi kan beda situasinya.” Jawab Habibah mulai tersipu.

“Ayo donk Tan..!” Bujuk Habibah lagi.

“Iya deh iya aku yang mencet.” Jawab Tania akhirnya memberanikan diri.

TINGTONG…

TINGTONG….

“Bie gak nyaut Bie..”

“Dah pencet lagi aja.”

TINGTONG

Jreeg!

Pintu hitam itu terbuka dan keluarlah sosok lelaki tampan dengan tubuh kekarnya, dan tanpa pandang bulu ia langsung membentak.

“Apa lagi sih?? Tadi kan sudah aku bayar! Ada urusan apa lagi sii..”

“Ehh maaf aku pikir temanku.” Sahut Willy Olsen salah mengira.

“Loh mba Bibie kan?” Sapa Willy mencoba menghilangkan malunya.

Namun bukannya Tania dan Bibie menjawab, mereka malah terdiam menatap tubuh telanjang dada Willy Olsen. Dia pasang mata mereka terus menyusuri bidang tubuh Willy yang berotot. Terus saja mereka menelusuri hingga berakhir pada tonjolan besar diantara dua pangkal paha lelaki bertinggi badan 183 cm itu. Nampaknya Willy tidak sadar kalau dia hanya mengenaka celana boxer, hingga membuat dua wanita cantik ini dibuat terperangah oleh tonjolan yang terlihat begitu besar.

“Mba.. Mbaa…”

“MBA Bibie…” Seru Willy membuat kedua wanita didepanya terkejut.

“Haaah.. Besarr.. Ehhh..” Tania sedikit terbelit.

“Ahhh.. Hmmm.. Mas Willy hehehe..”

Keduanya nampak tersipu malu atas apa yang mereka lakukan barusan. Pipi mereka memerah dan tak bisa mereka sembunyikan. Melihat ekspresi yang terpancar dari wajah cantik Bibie dan Tania, baru membuat Willy tersadar bahwa dirinyalah yang telah membuat kekikukan ini.

“Ehh silahkan masuk dulu mba.. Silahkan silahkan..!” Willy mempersilahkan.

Dengan wajah yang masih membisu keduanyapun masuk. Willy yang menyadari ia masih bertelanjang langsung berlalir kearah belakang.

“Bie.. Dadanya Biee.. Berotot, berbulu.. Sixpack…” Gumam Tania pelan

“Iya Tan Bulu Tan.. Besar juga Tan… Hmmmmfft…” Balas Bibie berusaha masuk kedalam.

Tak lama Willy kembali dengan Kaos hitam ketat dan celana pendek warna senada. Walau sudah mengenakan kaos namun tetap otot ditubuhnya tidak bisa disembunyikan dan tetap membuat hati kedua pembantu ini terhanyut.

~~~The Bastian’s Holiday~~~

“Ohh Maaf Mba Bibie, tadi saya habis pijat jadi belum sempat pake baju.. Hee hee…”

“Oh iya duduk dulu mba” Willy mempersilahkan.

“Ohhh.. Jadi yang tadi itu tukang pijat atau temennya mas” celetuk Bibie tak sadar.

“Ahhhh.. Ahhh.. . Sudahlah gak usah dipikirin Hehe Hehe.” Ujar Willy menutupi dengan tawa.

“Oh iya Mba ada perlu apa yah kesini?” Tanya Willy yang membuat Bibie dan Tania tersentak.

“Ahhh.. Ahhh.. Perlu apa yahh..”

“Tan perlu apaa tan..” Gumam Tania pelan.

“Ya gak tahu kan kamu yang ngajakin gimana sihh.” gumam Tania tak kalah geroginya.

“Ehhh…”

“Oh iya mas kenalin dulu ini teman aku.. Tania..”

“Tan Tania salam ke kenal…”

“Salam kenal aku Willy.” Sahut Willy dengan senyumnya yang penuh sihir.

Nampak ketiganya sadar akan situasi yang terjadi diruangan itu. Kejanggungan dan kebingunganpun terjadi diantara ketiganya. Tak tahu hendak bertanya apa dan tak tahu harus menjawab apa. Semuanya hanya bisa terbata – bata dan cengar – cengir tak tahu arah. Namun setelah mendapat penjelasan ala kadarnya dari Bibie baru suasana sedikit mencair, sedikit.

“Ohh jadi cuma mampir.., ya gak apa – apa. Kan pintu rumahku selalu terbuka.”

“Iya mas hehe..” Jawab Bibie sedikit tertawa.

“Jadi cewe yang tadi keluar itu tukang pijet ya mas? Aku pikir. Pacarnya mas Willy.” Tanya Tania mulai terbiasa berhadapan dengan Willy.

“Ehh ehh.. Iyaa. Kemarin habis main basket agak pegel – pegel gitu.”

“Ohhhh…”

“Hehe he hehe” Willy nampak sedikit panik.

“Oh iya mau minum apa?”

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Minuman yang disajikan oleh Willy berhasil mencairkan suasana. Tidak ada lagi rasa kikuk yang sebelumnya mereka alami. Obrolanpun terjadi begitu lancarnya bahkan membuat mereka lupa waktu. Mereka terus dan terus mengobrol layaknya sahabat lama. Padahal satu jam yang lalu Tania begitu malu dan gerogi berhadapan dengan Willy.

Mengisi kesunyian, sebuah film dramapun diputar. Bibie begitu antusiasnya menonton hingga tak mau lagi diajak berbincang . Ia terus menatap layar datar seolah ia terhipnotis masuk kedalam adegan. Sesaat kemudian sebuah panggilan masuk ke telepon genggam milik Tania, yang mengharuskan dia untuk menyingkir sesaat dari keriuhan.

“Iya, Baik tuan akan saya siapkan sebelum tuan pulang.”

“Ya sudah jangan sampai lupa, malam ini saya pulang cepat.” Seru Imam Santoso dibalik sana.

“Oh iya kamu sedang dimana?”

“Ehh Saya dirumah saja Tuan dari pagi, hari ini saya gak jadi keluar”

“Hmm Baguslah kalau begitu, nanti saya akan belikan kamu hadiah atas kepatuhan kamu hari ini”

“Ya udah Kamu istirahat saja dulu.”

“Baik tuan”

“Haaaahh” Tania menghela nafas sambil menutup telepon dari majikannya

“Telepon dari siapa mba?” Suara Willy sedikit mengagetkan Tania yang tengah berdiri menghadap jendela.

“Dari majikanku Mas, biasa ngingetin aku untuk siapin masakan buat makan malam” Jawab Tania sambil memasukan telepon genggam kedalam saku mantel coklat mudanya.

“Ohh, tapi tadi kok bilangnya lagi gak keluar sih?” Tanya Willy sedikit penasaran.

“Hehehe… Habis, sebenernya aku gak dibolehin main ketempat orang mas tanpa sepengetahuan majikanku.”

“Ohh gitu. Galak yah mba majikannya?”

“Ya gitu deh?”

“Kalau galak kenapa gak minta berhenti aja?” Tanya Willy lagi semakin mendekatkan tubuhnya disamping Tania.

“Ya mau bagaimana lagi mas, ini semuakan untuk anak – anakku. Kalau aku berhenti aku mau kerja dimana lagi? Cari kerja kan susah mas.”

“Iya sih, ehh.. Tapi kok mba yang harus cari uang sih? Emangnya suami mba kemana?”

“Suamiku sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Jadi yaa aku yang harus cari nafkah buat dua anakku.”

“Oooppss. Sorry aku gak tahu” tanggap Willy sedikit menyesal.

“Gak apa – apa kok. Oh iya, ngomong – ngomong mas Willy sendiri sudah punya pacar?

“Belum mba, gak ada yang mau sama aku.” Jawab Willy sedikit merendah.

“Ahh mas Willy ini merendah deh, masa ganteng gini gak ada yang mau sih?” Selidik Tania sedikit centil.

“Ya belum kepengen aja sih sebenernya, lagian aku masih sibuk kuliah dan ngurusih perusahaan papah. Jadi gak sempetlah buat pacaran – pacaran.” Jelas Willy

“Hmmmm. Terus disini tinggal sama siapa mas?”

“Aku tinggal sama Andre sepupuku, cuma dia lagi keluar. Ya biasanya sih jam segini dia pulang.” Jelas Willy.

“Ohh kirain tinggal sendiri!”

“Emang kalau aku tinggal sendiri mba Tania mau nemenin yah?” Sahut Willy mulai sedikit menggoda.

Namun pertanyaan itu tak dijawab oleh Tania, ia hanya tersenyum sambil menaikan satu alisnya. Nampaknya Tania mulai termakan rayuan Willy.

“Oh iya Mba makasih yah”

“Loh makasih buat apa mas?” Tanya Tania heran.

“Ya makasih aja udah mau main ke tempatku. Aku beneran gak nyangka loh siang bolong gini ada dua bidadari cantik yang datang..” Lanjut Willy dengan suaranya yang semakin berat.

“ahh bisa aja, emangnya aku cantik yah mas?” Tania kembali bertanya dengan wajahnya yang semakin ia dekatkan kearah Willy.

“Wow. Ya cantik lah, malah sebenarnya aku gak percaya kalau mba Tania ini seorang pembantu. Aku pikir mba ini kalau gak model yah penyanyi.”

“Ah mas terlalu berlebihan nih mujinya, masa aku disamain kaya model sih? Ya jauh laah!” Jawab Tania semakin memerah wajahnya.

“Mba mah gak percaya, mba Tania tuh wanita tercantik yang pernah aku kenal” goda Willy sembari membelai lembut rambut dan wajah Tania.

“Ahh mas gombal terus niihchhh, Tania kan jadi malu” semakin tersipu oleh godaan itu hingga wanita cantik ini terus memegangi mantel yang menutupi tubuhnya hingga ke lutut.

“Mas Willy jangan godain Tania terus dong” lanjut Tania sambil menyenggol Willy dengan tubuhnya.

“Hahahah.. Enggak mba aku gak lagi ngegoda kok.” Ujar Willy sambil menahan tubuhnya agar tak terhuyung.

“Eh mba kok dari tadi mantelnya gak dibuka sih? Emang gak gerah yah? Sejak dateng kesini gak dilepas – lepas?” Tanya Willy setelah melihat Tania terus memegangi mantelnya.

“Ya gerah sih mas, cuma kalau dibuka Tania malu.” Jawab Tania semakin merapatkan tanganya didepan mantel.

“Emang kenapa? Banyak panunya yah pasti?” Gurau Willy.

“Enak aja banyak panunya, Tania sehari mandi 3 kalu tahu” protes Tania cemberut.

“Ya udah dibuka aja, sini sini aku bantuin”

Willy segera beralih kebelakang tubuh Tania dan segera membantu melepas mantel yang terus ia kenakan. Dengan perlahan Willy melepaskan mantel milik Tania, dan Taniapun mengikuti gerak tangan Willy untuk mempermudah.

Sesaat setelah melepaskan mantel milik Tania, willy terdiam. Ia tertegun oleh tubuh yang begitu indah. Putih bersih tanpa ada goresan sekecil apapun. Pria mana yang tidak tergiur melihat tubuh secantik itu. Willy segera meletakan mantel diatas meja tak jauh dari mereka berdiri, dan lekas kembali berdiri dihadapan Tania yang terlihat sedikit risih dengan pakaian yang ia kenakan.

Willy berdiri, terdiam dan mematung dihadapan tubuh Tania yang terbungkus pakaian yang bercorak hitam putih dengan hiasan renda putih dibagian bawahnya. Bagai tak pernah melihat wanita mengenakan pakaian seperti itu, Willy terus memandanginya sampai menelan banyak ludah.

~~~The Bastian’s Holiday~~~

“Kenapa mas? Kok ngelihatin Tania kayak gitu banget? ” Tanya Tania membuyarkan lamunan Willy.

“Ah ah.. Enggak, ehhh…. ehhh.. Hmm. Tuh kan jadi enak kelihatanya?” Jawab Willy mulai gugup.

“Enak apanya?” Tanya Tania lagi sedikit memancing.

“Yaa Enak, jadi gak gerah lagi. Hehe”

Tania hanya tersenyum, ia tahu bahwa Willy pasti tertarik akan tubuhnya. Namun ia berusaha menjual mahal.

“Jadi seragam kerja mba Tania seperti ini yah?” Tanya Willy mengomentari seragam pembantu ala prancis yg selalu dikenakan Tania.

“Iya mas, semua seragam kerja Tania seperti ini, cuma coraknya aja yang beda – beda” Jawab Tania sedikit memegangi roknya yang hanya mampu menutupi separuh pahanya.

“Ohh. Jadi setiap hari mba Tania pake baju ini??” Tanya Willy hingga tak sadar mengitari tubuh Tania.

“Iya mas setiap hari pake ini, habis majikan Tania maunya seperti itu sih..” Jelas Tania sembari terus memandang wajah Willy yang terus mengitari tubuhnya.

Willy berhenti dibelakang tubuh Tania dan lanjut bertanya. “Oh gitu.”

“Iya, bahkan keluar apartemenpun Tania pake baju ini, makanya kadang Tania tutupin pake mantel.” Jawab Tania menolehkan wajahnya kebelakang.

“Hmm.. Pake mantel biar gak ketahuan yah kalau gak pake daleman” Tanya Willy menggoda dengan suaranya.

“Ahh mas Willy… Kok tahu sih” Tania terkejut, menyentak dan sedikit melotot.

“Ya tahu donk, kan mataku bisa tembus pandang.”

“Ahhh maaasss.. ”

“Hmmm, kok sekarang jadi aku yang gerah yah” Seru Willy mulai bergairah.

“Ihh genit deh mas Willy” seru Tania sambil berjalan menjauh dari Willy.

Tania berdiri dekat sekali dengan kaca jendela. Ia membuka tirai besar yang menutupi pemandangan gedung – gednung pencakar langit. Namun tak ada yang mampu menutupi bahwa Tania sedang dilanda birahi. Tubuhnya berkeringat dan sedikit bergetar. Ia sudah tak mampu menahan, 5 tahun sudah terlalu lama baginya. Ia berfikit apakah ini kesempatan?.

“Haahhhh… Haaahh.”

Tanpa sadar keluar desasahan kecil dari bibir bertabur gincu milik Tania. Matanya terpejam dan pikiranya perlahan menghilang. Melihat itu Willy memberanikan diri mendekati Tania dan perlahan meraba pinggul sempurna itu.

“Mas.. Ahhh..”

“Iyaa mba ada apa?”

“Hmmm”

Kembali dengan perlahan Willy merapatkan tubuhnya ke punggung Tania hingga batang kemaluannya menyentuh bongkahan pantat Tania.

“Hmmmmftt…”

“Massss…. Ahhhhh…”

“Mba Sange yaa?” Bisik Willy ditelinga Tania.

Tania tak menjawab, ia hanya sedikit mengangguk. Mendapat tanggapan dari Tania, Willy memberanikan diri memindahkan tangannya dari pinggul menuju gundukan kembar diatasnya.

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Pinggul kekar Willy mulai bergerak, seolah menyetubuhi kewanitaan Tania dari belakang. Tanganya terus bergerilya menyusuri setiap sudut indah tubuh Tania Santoso. Tania hampir sepenuhnya hilang kesadaran. Ia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi, baginya ini satu satunya kesempatan ia akan mendapatkan kembali sebuah kenikmatan nyata. Bukan kenikmatan semu yang sesaat memudar.

Dengan sedikit kesadaran Tania berbalik menyentuh tubuh Willy Olsen, meraba paha dan pantat Willy yang terasa begitu keras. Tanganya yang lain berusaha menarik tangan sibuk Willy agar menyentuh kemaluannya yang sudah terasa begitu lembab.

“Ahhhh. Pegang memek Tania mas, Tania udah gak tahan, ahhhh.”

“Iya sayang, ia sudah aku pegang, hmmm. Udah basah yah?” Jawab Willy dengan cepat memainkan jemarinya.

“Ahhhhhh.”

“Udah dari lama Tania suka sama mas Willy, tapi Tania takut gak berani.. ”

“Achhhhhh… Enak mass. Achhhh..”

“Enak yah diginiin.”

“Hee eehhh… Terus mas..”

TINGTONG

“Mas Willy mau kan entotin Tania?”

“Dengan senang hati mba Tania, aku tahu mba sudah menunggu lama selama ini.

TINGTONG

“Aaaaachhhhhhhhh, ”

“Iya Mas ditusuk kayak gitu enak… Achhhh” desah Tania ketika jari tengah Willy menusuk belahan vaginanya.

“Mas Willy, Tania kalian lagi ngapain?” Seru Bibie membuat Willy dan Tania terperanjat dan berbalik kebelakang.

“Haaaah…”

“Eewwhhh…!”

“Eh, mba Bibie, gak lagi ngapa – ngapain kok” jawab Willy setelah menjabut jarinya dari vagina Tania.

“Hmmm gak ngapa – ngapain kok Bie,” Sahut Tania begitu merah padam.

“Hehehe… Ada apa mba Bibie?” Tanya Willy begitu gugup.

“Hmmppt.. Itu ada tamu mencet – mencet bel.” Jelas Bibie menahan tawanya.

“Oh ohhh.. Hehe”

~~~The Bastian’s Holiday~~~

Author: 

Related Posts

Comments are closed.